Pagi tadi, 19/08/2008, Mbak Kemi – tukang cuci di rumah kami – bilang pada istri saya,
“Mbak Habib tumut karnaval tah mangke (Mbak Habib ikut karnval nanti siang)?” katanya sambil menyapu dapur.
“Nggak Mbak, nggak ada yang nganter, saya dan Mas Heri pulang sore, ibu mapak Dayyan …” Jawab istri saya sambil menyiapkan sarapan.
“Ria nggih mboten tumut, sak niki mboten mlebet….(Ria juga nggak ikut, sekarang nggak masuk)…” kata mbak Kemi menyebut nama anaknya yang satu sekolahan dengan Habib – anak saya yang terakhir.
“Lha kenapa….” tanya istri saya
“Mbayar 45 ewu … nggih kulo mboten purun … damel nyewo klambi kale perlengkapan karnaval … (Mbayar 45 ribu, ya saya nggak mau..buat nyewa baju dan perlengkapan karnaval…)” jawabnya.
“Wah… kok mahal bisa buat beli susu…” kata istri saya
“Inggih mbak – arto sak monten saged damel tumbah minyak gas.. sedoso liter lebih… (Iya mbak, uang segitu bisa dibelikan minyak tanah 10 liter lebih…)”
“Iya mbak gak pa-pa nggak ikut.. Habib aja nggak masuk hari ini…”
“Inggih kulo sampun matur gurune.. mbonten nopo-nopo…(Iya, saya sudah bilang gurunya juga tidak apa-apa)…”
Saya yang mendengar percakapan itu jadi sedih… ya uang segitu emang banyak buat Mbak Kemi, lha wong upah untuk nyuci dari rumah saya saja cuma 200 ribu (kerjanya dua hari sekali dan jam kerjanya emang setengah hari untuk nyuci, nyetrika dan bersih-bersih rumah)
Saya juga inget tulisan di blog sahabat saya Pak Husnun [http://husnun.wordpress.com] tentang perayaan agustusan yang seharusnya hemat.
Sejak dulu saya sudah sering berpikir, apa tidak ada acara yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi orang lain selain baris berbaris dan karnaval.
Menurut saya sih – ANDA BOLEH NGGAK SETUJU – karnaval dan baris berbaris lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Mari kita list bersama-sama:
- Mengajari anak melupakan sholat wajib – anda pasti tahu kalo karnaval itu biasanya persiapannya dimulai sejak sebleum sholat dhuhur dan selesai menjelang atau bahkan melebihi sholat maghrib… saya tahu persis soalnya sejak SD sampe SMA saya ikut karnaval. Dan saya tahu banyak sekali – atau hampir semua melupakan sholat wajib itu, sekali lagi anda boleh nggak setuju dengan saya.. Tapi bagi saya itu prinsip. Karena tujuan utama dari memperingati kemerdekaan khan bersyukur atas nikmat kemerdekaan, lha kalo manifestasi syukur itu dengan meninggalkan sholat wajib.. ya bukan bersyukur.
- Pemborosan BBM – saya sudah cerita bahwa pada tanggal 16/08/2008 ketika saya ke Pasuruan terjebak karnaval di sepanjang jalan menuju Pasuruan, sehingga waktu yang dibutuhkan dari Lawang-Pasuruan yang biasanya Cuma 30 menit jadi 120 Menit alias 2 Jam! Anda tahu berapa banyak kendaraan yang harus memboroskan 4 kali BBM-nya. Dan Anda tahu juga…biasanya jadwal karnaval tiap kota beda.. Di Pasuruan tanggal 16, di Lawang tanggal 18, si Singosari tanggal 19.. artinya apa? Setiap hari ada kemacetan luar biasa – sehari sebelum menulis ini – gara-gara karnval saya menempuh perjalanan Singosari – Lawang yang cuman 15 menit jadi hampir 1 jam! Silahkan hitung berapa jumlah BBM yang terbuang!
- Kasihan Pak Polisi – jujur saya kasihan petugas keamana yang harus berjaga mulai sebelum solat dhuhur hingga isya (bahkan bisa lebih..) lha iya… khan mereka pengin libur juga… bayangin… hampir tiap hari paling tidak selama seminggu kalo tiap kecamatan karnavalnya berbeda… mereka bertugas seperti itu… emang sih anda boleh bilang khan mereka dibayar… iya… Tapi khan saya kira bisa menghemat pengeluaran dengan tidak ada karnaval…
- yang ke-empat, lima, enam dan seterusnya bisa anda tambahkan sendiri.
Baiknya gimana?
Nah itu saya yang masih berpikir sampai sekarang. Katakan tujuan karnval dan baris berbaris memang untuk meningkatkan rasa bangga terhadap bangsa ini.. oke apa tidak ada cara lain? Misalnya dengan mengadakan pelatihan macam ESQ itu yang menyadarkan anak-anak bahwa mereka saat ini sungguh beruntung tidak usah susah payah berjuang tinggal sekolah dan belajar yang baik, jadi siswa yang berprestasi dan seterusnya.
Selanjutnya untuk kondisi bangsa indonesia yang seperti saat ini, saya kira perlu dibangun rasa empati yang tinggi dan rasa berbagi sebagai wujud solidaritas sebagai bangsa terhadap saudara-saudara kita yang hingga saat ini “belum merdeka” entah karena kezhaliman yang dilakukan segelintir penguasaha dan konglomerat sehingga hidup mereka terlunta-lunta…
Mau tahu contohnya… pergilah ke Sidoarjo, jenguklah saudara kita yang terkena lumpur Lapindo… sudah berapa tahun mereka seperti itu dan sampai kapan akan terus begitu…
Ah… saya juga jadi malu belum berbuat apa-apa sama mereka… tetapi untuk itulah saya mengajak anda semua merenungkan lagi dan berpikir lagi dalam memperingati kemerdekaan ini untuk tidak melupakan komponen bangsa indonesia yang lain – yang tidak bisa merayakan dan menikmati kemerdekaan.
Paling tidak – mendoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan kesabaran kepada mereka, dan segera mendapatkan balasan yang terbaik… Amiin
MERDEKAA!!!
Tidak ada komentar: