Article

Seni Menghancurkan Hidup Lewat Satu Klik "Post"

Dunia maya +62 memang ladang drama yang nggak ada habisnya. Kalau bukan soal politik, ya soal orang-orang yang mendadak kena "penyakit" pamer kegoblokan kolektif. Belum kering ingatan kita soal drama botol minum di kereta, eh, muncul lagi pamer paspor luar negeri yang bikin negara "menagih janji". Satu unggahan bodoh ternyata cukup untuk meruntuhkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.

Mari kita bedah bagaimana cara paling cepat jadi musuh masyarakat dalam semalam berdasarkan urutan kejadiannya:


Babak 1: Ketika Tumbler Lebih Berharga dari Karir Suami

Semua bermula dari sebuah tumbler kopi yang tertinggal di KRL. Alih-alih berterima kasih karena barangnya diamankan petugas, si pemilik malah memilih jalur "si paling vokal" di Threads. Dia membuat narasi panjang yang menyudutkan petugas KAI bernama Argi, menuduh prosedur keamanan berbelit, hingga membuat karir petugas tersebut berada di ujung tanduk.

Plot Twist Satire: Netizen nggak tinggal diam. Begitu tahu suami si pengunggah adalah pegawai KAI juga, bola panas berbalik. Niat hati ingin viral dapet simpati, malah berujung permohonan maaf terbuka karena takut sang suami ikut kena sanksi disiplin. Pelajarannya? Jangan membakar rumah orang lain kalau pondasi rumah lo sendiri masih numpang di sana.

Babak 2: Paspor Inggris dan "Lupa Daratan" Penerima Beasiswa

Belum reda emosi netizen soal tumbler, muncul kasus Dwi Sasetyaningtyas. Bayangkan, lo adalah alumni beasiswa bergengsi (LPDP) yang dibiayai dari tetes keringat pajak rakyat Indonesia. Lalu, dengan ringannya lo pamer di Instagram kalau anak lo resmi jadi Warga Negara Inggris. Caption-nya pun juara: "Cukup gue aja yang WNI, anak-anak jangan."

Ini bukan lagi sekadar pamer, tapi penghinaan terselubung pada pemberi beasiswa. Netizen langsung mode "Intelijen":

  • Doxing Total: Latar belakang suami (yang juga awardee) dikuliti habis.
  • Intervensi Negara: Wamen Stella Christie sampai ikut bersuara, dan LPDP resmi memanggil mereka dengan ancaman pengembalian dana miliaran rupiah plus bunga.

Kesimpulan: Netizen Adalah "Badan Intelejen" Gratis

Fenomena ini membuktikan satu hal: Netizen Indonesia itu seperti detektif swasta yang nggak perlu dibayar. Mereka nggak cuma like, tapi bakal googling riwayat hidup lo sampai ke akar-akarnya kalau lo pamer dengan nada sombong.

"Erosi diri sendiri" — lo yang mulai pamer, lo juga yang kena getahnya sampai ke karir keluarga.

Jadi, sebelum pencet tombol "Post", pikir dulu: "Ini bakal bikin gue kelihatan pintar, atau justru bakal bikin keluarga gue kena batunya?" Di jagat maya +62, pamer bukan lagi tanda kaya, tapi seringkali jadi tanda petaka. Ketawa boleh, tapi jangan sampai besok muka lo yang jadi bahan ketawaan satu negara! 😆

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisan "Seni Menghancurkan Hidup Lewat Satu Klik "Post""!
Jika Anda punya kritik, saran, masukan atau pertanyaan silahkan tinggalkan pesan Anda melalui kolom komentar di bawah ini.