Article

Meruangi Pengalaman Manusia [Versi 1 ]

 by Andreas Anaya




Kita memiliki pengalaman manusia. Ada susah, senang, sedih, takut, dan malu. Pengalaman-pengalaman ini terus mengalir. Ketika pengalaman yang mengalir ini tidak kita kaji dan tidak kita sadari, kita akan hanyut di dalamnya.

Lalu kita menghadapi berbagai kejadian. Kita merasakan keterlekatan terhadap kejadian-kejadian itu. Kita mengiakan keterlekatan tersebut, lalu mengulang pola yang sama. Misalnya, kita kecanduan scrolling media sosial. Atau kecanduan makanan atau minuman tertentu. Atau substansi tertentu. Ketika hal-hal itu tidak kita lakukan, muncul perasaan tidak enak, tidak nyaman, lalu bosan. Misalnya juga kecanduan berkegiatan. Ketika tidak ada kegiatan, muncul rasa tidak nyaman dan kebosanan yang kuat. Di situ pun kita kembali hanyut.

Namun, kalau kita melawan dengan paksa, itu juga tidak berhasil. Kita menolak, melawan, membenci semua aliran pengalaman ini, itu pun tidak bisa. Kita menekan, menolak, atau berpura-pura tidak tahu, juga tidak menyelesaikan apa-apa. Mengalihkan perhatian atau sekadar mencueki pun tidak benar-benar bekerja, karena pengalaman-pengalaman itu tetap hadir.

Di sinilah ada suatu seni, yang bisa kita sebut sebagai seni hadir. Seni hadir adalah seni untuk tidak terikat hanya pada pola-pola reaksi pengalaman manusia, tetapi seni untuk mewadahi, meruangi, dan menemani pengalaman manusia itu sendiri.

Kita menemani dan mewadahi. Setiap orang mungkin punya kata-kata sendiri untuk mengekspresikan kebaikan mendasar ini. Ada yang menyebutnya memberkahi, menemani, atau meruangi. Yang jelas, dengan sikap ini, kita sebenarnya sedang mencerna pengalaman-pengalaman manusia. Pengalaman itu menjadi pembelajaran yang terintegrasi, seperti makanan yang dicerna dengan baik. Gizi yang berguna diserap, sementara yang tidak cocok akan dibuang secara alami.

Terjadi proses pencernaan otomatis dari pengalaman manusia. Yang baik terintegrasi, yang perlu dilepaskan akan terurai dengan sendirinya. Inilah yang disebut seni hadir. Sebuah sikap hadir yang menjadi kunci dalam menjalani pengalaman manusia ini.

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisan "Meruangi Pengalaman Manusia [Versi 1 ] "!
Jika Anda punya kritik, saran, masukan atau pertanyaan silahkan tinggalkan pesan Anda melalui kolom komentar di bawah ini.